MALING (marketing
keliling)
Maling atau
marketing keliling merupakan acara program kerja IT TELKOM. Yang isinya berisi
membahas marketing dan sharing program kerja
IMA Sc se Bandung. Acara ini dihadiri IMA Sc Widyatama, IT TELKOM, IM
TELKOM dan POLTEK POS. Anggota IMA Sc UTAMA yng hadir adalah saya Dienni,
Bonny, Reynaldi, Salman, Irza, Linda
Moch.Rizki dan Febby Sekitar 60 orang
yang hadir di acara tersebut perwakilan dari setiap Sc. Acara ini dilaksanakan
pada hari minggu tanggal 9 Desember 2012 jam 10.00- 14.00 di Bober Tropicana
Bandung.
Rangkaian
acara di mulai dengan acara perkenalan anggota dari setiap Student chapter Sc.
Kemudian dilanjutkan persentasi dari enterpreneur muda owner footwear dengan
brand amble yaitu mas Adit, yang kebetulan mas Adit sendiri merupakan alumni
dari fakultas bisnis manajemen universitas widyatama tahun 2011. Beliau sharing
mengenai awal berbisnis tahun 2009
dengan modal pas-pasan dan kesukaannya terhadap produk sepatu luar, yang bagus
tetapi terhalang oleh harga yang mahal, mas aditpun ber inisiatif membuat
bisnis sepatu dengan sentuhan sepatu lokal dengan taste international. Pemasaran yang dilakukan melalui online saja.
Karena dianggap efektif dan efisien. Mas adit
sampai sekarang bisa mengembangkan pangsa pasarnya sampai ke singapore
dan malaysia. Karena positioning yang jelas dari produknya tersebut bercita
rasa international, selain itu pemasaran sepatu amble ini sudah merambah ke
advertising koran dan baligo, dan video di yutube dengan menggunakan model
bule. Agar semakin menanamkan kebenak konsumen bahwa sepatu yang diproduksinya
merupakan sepatu taste international tentunya.
Kutipan yang
saya ingat pada saat mas Adit melakukan persentasi adalah kita harus punya
DREAM+BELIVE+ACTION untuk mencapai segala impian kita begitupun dengan
berbisnis dan menjadi seorang marketeer.
Acara selanjutnya
adalah giliran mas Theo owner dari Bober sendiri yang memberikan persentasi
atau sharing ilmu mengenai bisnis bober cafe nya yang sangat digandrungi anak
muda saat ini. Yaaa konsep feels like home yang di terapkan bober dan juga
tempat nongkrong anak muda banget ternyata menjadi kunci sukses bober dalam
menentukan segmen dan target pasar sehingga bober mempunyai positioning cafe
tempat nongkrong dan gaul anak muda. Selain itu konsep experiential marketing
yang diterapkan bober sangan ngena ke pelanggannya, seperti dari indra mata
melihat suasana tempat, bunyi blender, musik bau-bauan dan feel merasa
dirumah juga banyaknya event event yang
diadakan disana seperti music standup comedy dll, menambah betah konsumen
berlama-lama disama. Hal tersebut adalah bukti kesuksesan bober dalam menggaet
target marketnya.
Tetapi dibalik kesuksesannya ada kelemahan
yang dimiliki bober yaitu penjualan disetiap cabang bober yang tidak stabil
bahkan membuat rugi perusahaan. Yaitu cabang bober plamber jl.setiabudi. mas
theo menyebutkan bahwa di cabang itu bober rugi ratusan juta. Kemudian di
cabang bober tripicana jl.sumatra mminim pengunjung. Nah dari masalah tersebut
kami anggota IMA sc dibagi menjadi 5 kelompok berusaha memberikan solusi dari
masalah tersebut berkenaan dengan makanan, kebersihan dan layout dan bagaimana untuk mendiferensiasi bober
dari setiap cabang. Satu kelompok terdiri dari 10 orang yang hasil dari diskusi
akan dipersentasikan oleh perwakilannya satu orang. Dan kebetulan satya dari
kelompok 3 menjadi perwakilan dari yang mempersentasikan hasil diskusi tadi.
Saya tak
menyangka sambutan nya pada saat saya menyampaikan hasil diskusi kami mendapat
pujian dan tepuk tangan yang meriah dari mas theo dan tamu IMA Sc pada saat
itu. Karena saya menyarankan agar lebih diperbanyak camilan karena berdasarkan
dari positioningnya tempat nongkrong dengan target youth dan harga sesuai
dengan kantong anak muda. Kemudian masalah kebersihan yang sangat terbengkalai,
mas theo menyatakan hal tersebut dibuat sengaja agar konsumen merasa dirumah
sendiri dan bebas beraktifitas jadi tidak terlalu bersih, malah ke hitung
kurang bersih untuk ukuran cafe. Kelompok kami menyarankan bahwa pergeseran
perilaku konsumen saat ini lebih sadar
lingkungan dan kesehatan hal tersebut dinyatakan oleh yuswohady dalam bukunya consumer 3000. secara otomatis apabila hal tersebut
dibiarkan maka akan berdampak buruk pada bober cafe dimasa yang akan datang.
Kemudian kami membuat positioning dari setiap cabang yaitu bober riau adalah
tempat lebih kepada nongkrong anak muda, bober tropicana lebih ke event-event
besar meeting, pesta nobar dsb dikarenakan tempatnya yang luas dan suasan Food
court dengan berbagai macam pilihan kuliner. Dan untuk bober plamber adalah
disamakan positioningnya dengan bober riau karena ukuran tempatnya yang sama
dengan memperbesar area sirkulasi udara agar tidak pengap dan bau asap rokok.
Itulah sepenggal pengalaman saya pada saat
menikuti acara maling. Sungguh menambah pengetahuan dan mengasah kemampuan
dalam menganalisis. Keren acaranya.
By:
Dienni Sahiraliani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar